Pernahkah Anda merasa laptop mulai melambat saat membuka banyak aplikasi sekaligus? Masalah ini sering kali bukan disebabkan oleh kerusakan perangkat, melainkan memori (RAM) yang sudah kewalahan mengimbangi aplikasi modern. Di tengah pesatnya digitalisasi nasional, teknologi DDR5 hadir sebagai standar baru yang menjanjikan performa luar biasa. Namun, di Indonesia, transisi ini bukan sekadar soal adu kecepatan, melainkan tentang bagaimana teknologi canggih ini bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Jika diibaratkan jalan raya, RAM adalah lebar jalan yang menentukan seberapa banyak kendaraan bisa melintas. Berdasarkan data Crucial Technology, DDR5 memiliki kecepatan mulai dari 4800 MT/s, sekitar 50% lebih kencang dibanding DDR4. Selain itu, DDR5 lebih hemat daya hingga 20% karena bekerja dengan tegangan lebih rendah (1.1V). Bagi pelajar atau pekerja kreatif yang bermobilitas tinggi, teknologi ini memastikan baterai laptop bertahan lebih lama meskipun digunakan untuk tugas berat seperti mengedit video atau rendering grafis.
Namun, realitas pasar di Indonesia menunjukkan tantangan besar. Mengutip DiKlikAja.com, harga modul 16GB DDR5 bisa mencapai Rp2 juta, jauh di atas DDR4 yang hanya berkisar Rp800 ribu. Meskipun tren sejarah menunjukkan harga akan turun, hambatan seperti pajak impor dan fluktuasi rupiah sering menunda adopsi massal di Indonesia. Menurut saya, selama harga belum stabil, DDR5 hanya akan menjadi konsumsi eksklusif bagi kalangan yang memiliki anggaran lebih, sehingga berisiko memperlebar jurang kemampuan digital masyarakat.
Persoalan ini sebenarnya jauh lebih dalam jika kita melihat ambisi besar pemerintah dalam mengembangkan Kecerdasan Buatan (AI). Kabar dari Antara News menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar tren, melainkan prioritas nasional yang butuh fondasi perangkat keras yang tangguh. Di sinilah DDR5 menunjukkan peran kuncinya melalui bandwidth besar yang mencapai 128 GB/s, proses pengolahan data AI yang rumit bisa dilakukan dengan lebih cepat dan lancar. Kita harus menyadari bahwa mimpi untuk mencetak generasi digital yang hebat akan sulit terwujud jika para anak muda terutama mereka yang berada di pelosok desa masih harus berjuang dengan komputer lama yang serba terbatas.
Kesimpulannya, DDR5 adalah fondasi masa depan, namun tantangan ekonomi tetap menjadi batu sandungan. Saya berpendapat bahwa pemerintah perlu mendorong kemitraan dengan produsen untuk menyediakan perangkat berstandar DDR5 yang terjangkau bagi sektor pendidikan. Bagi konsumen, memilih laptop dengan DDR5 saat ini adalah investasi jangka panjang yang cerdas agar perangkat tidak cepat usang. Teknologi tidak boleh menjadi barang mewah jika kita ingin mewujudkan transformasi digital yang merata.
